Kamis, 25 September 2008

AMIR HAMZAH DAN KESADARAN HISTORIS

(Telaah Atas Puisi “Hanya Satu”)

Oleh: Valery Kopong*

PUISI sebagai bagian dari karya sastra yang dihasilkan oleh para penyair, mengedepankan pelbagai aspek yang membentuk bangunan puisi dan seluruh aspek yang membentuknya menarik untuk dikaji. Dikatakan menarik karena di dalam puisi itu termuat pelbagai dimensi kehidupan yang terangkum dalam penggalan kata. Pemilihan kata (diksi) oleh penyair merupakan suatu seni untuk memperhadapkan dua realitas berlawanan, yakni realitas batin dan realitas sosial. Walaupun berlawanan tetapi keduanya memiliki keterkaitan yang erat. Realitas sosial membentangkan kenyataan dan sekaligus memberikan inspirasi pada penyair untuk mengakumulasikan realitas itu ke dalam olahan jiwa.

Untuk memahami lebih jauh tentang puisi dengan penggalan kalimat yang pendek sekaligus mewakili realitas sosial, membutuhkan sebuah penafsiran yang mendalam. Dalam interpretasi subjektif, seorang penafsir dapat menemukan unsur batin dan unsur sosial yang masih tersembunyi bagi pembaca. Penafsiran yang dilakukan terhadap puisi harus dilihat secara komprehensif tentang latar belakang kehidupan seorang penyair dan alasan penulisan puisi tersebut. Hal ini berarti bahwa seorang penafsir mestinya masuk ke kedalaman wilayah pribadi seorang penyair.

Amir Hamzah dan puisi-puisinya sulit dipahami oleh para pembaca. Kesulitan pembaca dalam menafsir puisinya dikarenakan oleh penggunaan kata-kata lama dan kata-kata dalam bahasa daerah mengkonstruksi puisinya. Dalam tulisan ini, penulis hanya membatasi diri pada puisi berjudul “Hanya Satu” untuk ditelaah dari aspek teologis, sosiologis dan filosofis.

Kekuatan Makna Puisi

Seorang penyair memiliki kesanggupan untuk membahasakan alam semesta hanya dengan beberapa penggalan kalimat. Setiap kalimat yang dipakai memiliki makna dan mewakili sisi tertentu dari objek yang diimajinasikan. Pada momen ini seorang penyair berkutat dengan daya ratio yang dibangkitkan untuk berimajinasi dan mempertemukan pelbagai unsur dalam suatu kerangka kalimat.

Penyair tidak hanya membangun relasi dengan sesama lewat puisi yang dihasilkannya tetapi juga ia menjalin hubungan vertikal-transendental dengan Yang Maha Ada.

Dalam puisi “Hanya Satu”, karya Amir Hamzah terdiri dari dua bagian, bagian pertama melukiskan kebesaran dan kekuasaan Tuhan.

HANYA SATU

Timbul niat dalam kalbumu:

Terban hujan, ungkai badai

Terendam karam

Runtuh ripuk tamanmu rampak

Pada bait pertama ini Amir Hamzah menggambarkan kehendak Tuhan yang bebas. Kebebasan ini nampak ketika Tuhan sendiri menurunkan hujan dan mendatangkan sebuah bencana. Walaupun Tuhan tahu bahwa bencana itu menyiksa manusia tetapi toh Ia anugerahkan juga sebagai pemusnahan tingkah laku dan pribadi manusia sendiri yang telah membangun sebuah hidup di luar kontrol peringatan Tuhan.

Membiarkan manusia untuk berada dalam kebinasaan adalah suatu keharusan bagi Tuhan dan sebagai tindakan purifikatif. Dunia telah dinodai manusia yang ditempatkan oleh Tuhan dan atas kehendak Tuhan yang sama diadakan sebuah pemulihan. Pemulihan tidak berarti dilakukan dengan jalan damai, melainkan dengan sebuah konfrontasi. Bencana lalu menjadi sarana penyapaan Tuhan terhadap manusia yang selama itu telah menutup pintu batinnya terhadap intervensi Tuhan. Bencana yang diturunkan Tuhan mendatangkan ketakutan mendalam dari manusia seperti dilukiskan penyair pada bait yang kedua.

Manusia kecil lintang pukang

Lari terbang jatuh duduk

Air naik tetap terus

Tumbang bungkar pokok purba

….

Sebagai manusia biasa, tentunya mereka lari dari bencana untuk dapat meluputkan diri. Manusia boleh berusaha tetapi kehendak Tuhan lebih mendominasi untuk berusaha melenyapkan nyawa manusia. Manusia boleh lari namun pelariannya menemukan titik kulminasi keberakhiran. Pada momen yang mendebarkan itu, Tuhan, dengan bantuan air bah melenyapkan nyawa manusia. Peristiwa pemusnahan manusia ini memunculkan suatu ketakutan yang mendalam sebagai gambaran manusiawi manusia.

Teriak riuh redam terbelam

Dalam gegap gempita guruh

Kilau kilat membelah gelap

Lidah api menjulang tinggi

….

Harapan akan keselamatan nyawa manusia yang meninggal akibat bencana menjadi serba suram. Kematian yang tragis tidak menjadikan mereka untuk meraih sebuah keselamatan sebagai upah terhadap hidup yang pahit tetapi malah Tuhan sendiri, di dalam kegelapan peristiwa tragis itu memberikan tanda bahwa mereka akan ditempatkan di neraka, yang di dalam puisi dilambangkan dengan api yang membara. Di sini, penulis melihat kemarahan Tuhan yang mendendam terutama kepada manusia yang sudah ditegur oleh Tuhan namun tidak mau bertobat. Tuhan hanya mementingkan pribadi seorang Nuh dan keluarganya yang bersikap tanggap terhadap bisikanNya ketimbang nyawa orang banyak. Pada peristiwa ini Tuhan mengedepankan kualitas iman dan bukannya kuantitas manusia yang mengingkarinya.

Terapung naik jung bertudung

Tempat berteduh Nuh kekasihmu

Bebas lepas lelang lapang

Di tengah gelisah, swara sentosa

….

Kisah Nuh pada bait di atas ini mengingatkan kita akan keberpihakan Tuhan pada orang yang dikasihinya. Mengasihi manusia, bagi Tuhan memiliki hubungan relasional. Itu berarti bahwa ketika manusia dikasihi Tuhan, pada saat yang sama ia menunjukkan partisipasi aktif, ada tanggap balik di dalam hubungan relasional itu. Tuhan menegur dengan suatu harapan untuk menata kehidupan manusia dan di sini dituntut kepekaan hati untuk mendengar dan menanggapi bisikan Tuhan.

Nabi Nuh dalam relasinya dengan Tuhan diibaratkan oleh Amir Hamzah sebagai kekasih. Sebagai kekasih berarti sama-sama menunjukkan suatu keterlibatan secara penuh dan aktif. Nuh dalam kerangka perlindungan pada akhirnya menuai keselamatan. Keselamatan Nuh dimengerti sebagai upah yang ditanam olehnya pada tahun-tahun selama keberadaannya dengan Tuhan.

Dalam bait yang terakhir, Amir Hamzah menyatakan rahmat Tuhan kepada nabi Ibrahim serta kedua puteranya, Ishak dan Ismail.

Bersemayam sempana di jemala gembala

Duriat jelita bapaku Ibrahim

Keturunan intan dua cahaya

Pancaran putera berlainan bunda

….

Amir Hamzah dalam puisi ini menampilkan tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama yang mempunyai kharisma dan kesalehan untuk kemudian dijadikan sebagai panutan dalam kehidupan publik. Ibrahim (Abraham) dipilih oleh Allah menjadi Bapa Bangsa. Penunjukkan dirinya menjadi Bapa Bangsa berarti bersedia menanggung apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Tuhan (Yahwe) memberikan cobaan yang menunjukkan bukti kesetiaannya pada Tuhan. Pengorbanan anaknya Ismail (menurut teologi Islam) memperlihatkan keterbukaannya pada Tuhan. Baginya, memberikan sesuatu kepada Tuhan merupakan suatu keharusan dan wujud ketaatan, walau pemberian itu berupa nyawa sekalipun. Ibrahim yang dicobai dengan mempersembahkan puteranya tidak menampilkan prinsip “do ut des” (saya memberi untuk kemudian saya menerima). Tetapi di sini berlaku hukum loyalitas-spiritual, di mana seluruh ketaatan selalu terpancar dari spiritualitas hidup.

Amir Hamzah dan Kesadaran Historis

Penyair Amir Hamzah selalu berada dalam waktu dan daya imajinasinya cukup fleksibel untuk masuk ke dalam ruang-ruang waktu. Dalam puisinya “Hanya Satu”, Amir Hamzah menampilkan keterlibatannya secara imajinatif bersama tokoh-tokoh dan peristiwa masa lampau yang tidak dialaminya secara langsung. Melalui kisah biblis, ia mengembangkan sebuah “teologi puisi” yang memiliki nilai teologis dan sosiologis. Untuk memahami masa lampau peristiwa ini, seorang penyair, secara khusus Amir Hamzah mencoba mengasah kesadaran historis untuk melihat masa lampau dan turut terlibat di dalamnya.

Kehebatan Amir Hamzah dalam puisi ini adalah mengedepankan masa lampau dan memperhadapkan dengan masa kini serta memberikan suatu proyeksi untuk masa yang akan datang. Tiga dimensi waktu ini dikaitkan secara berantai untuk ditemukan multi makna. Baginya, saat sekarang (masa kini) menyatukan masa silam dan masa depan. Pada masa kini, masa lampau dilihat sebagai kenangan dan berdasarkan kenangan itu orang bisa membuat ‘retrospeksi’ dan ‘retrodiksi’ (mengatakan sesuatu tentang masa lampau)

Melalui cerita biblis, Amir Hamzah menghidupkan kembali peristiwa yang menyejarah itu lewat penggalan puisi. Puisi menampilkan ‘bahasa kesadaran’ masa lampau dan dengannya para pembaca menerima peristiwa dan nilai masa lampau itu sebagai yang terberi. Di sini, seorang penyair sekaligus dilihat sebagai sejarahwan yang membangkitkan ingatan masa lampau penuh kenangan. Terhadap peristiwa ini, aliran idealisma dalam filsafat menegaskan bahwa masa silam harus diterima sebagai sesuatu yang hidup dan diperbaharui lagi untuk memenuhi tuntutan masa kini.

Dalam kaitan dengan pandangan yang diberikan oleh aliran idealisme, memunculkan suatu perbedaan yang tajam antara ‘historie’ dan ‘geschichte’. Historie menunjuk pada himpunan fakta-fakta historis yang menjadi bahan mentah untuk diteliti dan diberi arti agar manusia dapat memahaminya. Sedangkan ‘geschichte’ menunjuk pada usaha menafsirkan dan memahami perjalanan manusia dalam waktu, sejauh itu terungkap dalam kejadian-kejadian. Geschicte merupakan cara khusus untuk menjawabi tuntutan-tuntutan untuk memahami pertanyaan menyangkut arti eksistensi yang berakar pada masa lampau, dihayati pada masa kini dan terarah ke masa depan.

Puisi “Hanya Satu” milik Amir Hamzah dilihat sebagai puisi bernilai sejarah. Originalitas puisi menggagas manusia dalam tindakannya, yang satu menunjukkan keberpihakan dengan Tuhan dan yang lainnya membelok dari hadapanNya. Seluruh perilaku manusia dilukiskan lewat kata yang membentuk kalimat dan menunjukkan kebermaknaan. Martin Heidegger, filsuf eksistensialis menegaskan kekuatan kata-kata yang sanggup memberikan arti tertentu berdasarkan zamannya. Komunikasi verbal dalam puisi sengaja dibangun untuk mengantar orang sebagai mitra bicara agar terlibat dengan kehidupan imajinasi seorang penyair. Penyair adalah sosok yang menghidupkan kembali masa lampau, mengungkapkan pesan-pesan tertentu dari zaman yang jauh dan menghadirkannya pada masa kini dengan nilai sejarah berharga lewat untaian kata.***

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Tulisan ini kurang baik