Thursday, December 1, 2022

“Lahir Karena Tulisan”

 


Membaca berita hari ini di media sosial terutama dari orang-orang Nusa Tenggara Timur, memberikan proficiat dan selamat atas ulang tahun Harian Umum Pos Kupang ke 30. Ulang tahun  ke 30 ini mengingatkan kita akan perjuangan awal mendirikan media cetak di NTT dan bertahan sampai dengan hari ini. Secara pribadi, saya sendiri mengikuti perkembangan Pos Kupang sejak di seminari menengah sampai kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Pos Kupang, sebuah media cetak yang lahir belakangan setelah adanya majalah DIAN dan Kunang-Kunang yang dikelola oleh Serikat Sabda Allah (SVD) yang berperan penting dalam mencerdaskan masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Media-media cetak yang hadir di NTT, baik berpusat di Ende maupun di Kupang, berperan penting, tidak hanya memberikan gairah membaca bagi masyarakat tetapi juga menyediakan tempat bagi para penulis pemula yang ingin mengirim tulisannya ke meja redaksi. Tentang Pos Kupang yang hari ini berusia 30 tahun, saya sendiri tidak hanya sebagai pembaca setia tetapi juga sebagai penulis, mengisi kolom opini. Saya sendiri pada awal mengirim tulisan ke Pos Kupang, sepertinya ragu, jangan-jangan bisa ditolak oleh redaksi. Atas ketakutan yang berlebihan ini maka saya mencari cara, yakni nebeng dengan teman yang sering nongol opininya di Harian Umum Pos Kupang, atau sering disebut sebagai Kompas-nya NTT.

Suatu ketika saya mengajak teman saya, namanya Blasius Lodo Dai. Beliau sangat lihai dalam merangkai kata-kata dan memberikan gagasan untuk memperkuat opininya pada tulisan itu. Kami sering berdiskusi tentang persoalan soal politik waktu itu yang lagi ramai dibicarakan. Dari hasil diskusi itu, dirumuskan menjadi sebuah opini dan dengan memperlihatkan pelbagai argumen yang tajam serta pilihan solusi atas kasus yang diulas itu. Saya sendiri sudah lupa, tahun berapa kami mengirim tulisan dengan menampilkan nama saya dan nama temanku. Ternyata selang beberapa hari setelah tulisan itu dikirim, dimuat oleh redaksi Pos Kupang. Saya sendiri bangga bahwa opini bersama, antara saya dan temanku dimuat di Pos Kupang.

Awalnya nebeng dengan teman, tetapi selanjutnya saya sendiri mencoba mengirim tulisan opini dan ternyata dimuat juga. Perjumpaan jarak jauh semakin intens, dipertemukan oleh gagasan dengan redaktur Pos Kupang. Perkenalanku semakin intens ketika saya menjalani masa orientasi di LBH Justitia-Kupang. Sambil membantu pekerjaan di LBH Justitia Kupang, hampir setiap hari saya mengirimkan tulisan, baik opini maupun cerpen. Banyak orang menjadi tahu dan membaca tulisan-tulisanku waktu itu. Pernah suatu waktu, saya mengirimkan sebuah cerpen berbau budaya dan dimuat di kolom cerpen Pos Kupang. Setelah dimuat cerpenku itu, saya dihubungi dari kantor redaksi Pos Kupang. Cerpen saya ternyata diapresiasi oleh penulis novel terkenal, Ibu Matildis Banda. Menurutnya, cerpen berbau budaya itu sangat langka dan jarang sekali orang mengangkat persoalan budaya dalam bentuk cerpen. Karena itu beliau meminta bantuanku untuk terus menulis cerpen berbau budaya, tidak hanya sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya tetapi juga memperkenalkan budaya-budaya lokal yang kaya akan kearifan. Selamat ulang tahun ke 30 Pos Kupang, ad multos annos.***(Valery Kopong)

 

Wednesday, November 30, 2022

Mendekap Luka

 

Sumber foto: detik.com

Di tengah upaya membangun kerukunan umat beragama melalui gerakan “Moderasi Beragama,” rasanya sia-sia bila melihat tindakan intoleran yang terjadi di Cianjur, tempat terjadinya gempa bumi yang memporak-porandakan rumah-rumah warga bahkan menelan korban jiwa. Para korban saat ini berada di tenda-tenda darurat sebagai bentuk antisipasi jika terjadi gempa susulan. Kondisi seperti ini mengundang perhatian dari para pemerhati kemanusiaan untuk turun tangan dan mengatasi korban gempa. “Luka mereka adalah luka bersama” dan juga luka bangsa, karena itu tidak mengherankan hampir semua pihak turun tangan mengatasi persoalan kemanusiaan ini.

 

Tidak hanya para elite dan kaum berdasi yang menaruh harap dan perhatian pada mereka yang terluka serta membantunya namun juga orang-orang biasa. Hari-hari belakangan ini di jalan raya, kelompok-kelompok masyarakat meminta sumbangan dengan mengatasnamakan korban gempa Cianjur. Ada teman saya nyeletuk, apakah uang-uang itu sampai ke korban gempa Cianjur? Pertanyaan yang penuh keraguan ini adalah sesuatu yang lumrah karena soal tingkat kepercayaan masyarakat pada relawan dadakan yang muncul di tengah bencana. Namun siapa pun yang dengan tulus memberikan sumbangan, silakan memasukan uangnya pada kotak yang telah disediakan. Persoalan apakah uang itu disalurkan secara benar atau tidak, bukan urusan orang-orang yang dengan suka rela memberi uang itu.

 

Di tengah perhatian pemerintah  terhadap korban gempa Cianjur dan juga para relawan yang mengirimkan sumbangan dan tenaga-tenaga suka rela, ingin membantu agar Cianjur segera pulih. Namun kebaikan itu tidak dibalas dengan kebaikan. Apa yang kita lakukan baik, belum tentu dinilai baik oleh orang lain. Soal perhatian dan kebaikan yang diberikan pada Cianjur, justeru tidak dibalas dengan kebaikan yang sama, atau minimal mengucapkan kata terima kasih. Beberapa informasi di media sosial mengungkap persoalan intoleran dialami oleh orang-orang tertentu dengan mengedepankan label agama. Sebagai contoh, ada curhatan seorang dokter perempuan beragama Katolik di media sosial. Ketika ia datang ke Cianjur sebagai relawan untuk membantu masyarakat yang terkena bencana alam ini, justeru ditolak karena berbeda agama dengan korban yang dilayani itu.

 

Memang miris melihat situasi seperti ini, apalagi di tengah puing dan reruntuhan hidup. Masihkah kita menolak sesama yang mau membantu yang terluka hanya karena berbeda agama? Esensi agama, apa pun agama yang dianut, mengajarkan tentang kebaikan dan cinta kasih. Cinta kasih menjadi landasan utama dalam bertindak dan menjumpai sesama. Cinta menggerakan setiap orang untuk peka terhadap korban bencana itu, namun “atas nama agama” kelompok-kelompok tertentu harus menghentikan pelayanannya karena berbeda agama. Agama seakan-akan menjadi momok yang menakutkan dan memberi daya pisah di antara kita. Masihkah kita bertahan dengan sikap egois untuk tidak mau dilayani walaupun terus mendekap luka?***(Valery Kopong)

 

 

 

 

Tuesday, November 29, 2022

Tenda Pengungsi

 

Membaca berita di medsos yang beredar pada hari-hari belakangan ini tentang logo gereja yang melekat pada terpal tenda pengungsi korban gempa Cianjur dirobek oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tindakan yang kurang terpuji ini menuai reaksi beragam dari pada  nitizen. Ada yang berpandangan bahwa sebaiknya kalau membantu orang, jangan membawa logo gereja karena “apa yang dilakukan oleh tangan kanan, tidak boleh diketahui oleh tangan kiri” dan  supaya tidak memancing reaksi. Pandangan sebagian nitizen ini juga baik bahwa memberi harus dengan tulus tanpa memperlihatkan logo serta identas seorang pemberi. Sementara itu ada pendapat lain yang mengatakan bahwa logo gereja itu tetap dipasang karena tenda yang dipakai itu inventaris gereja dan juga sebagai bentuk pertanggung jawaban gereja pada pihak donatur. Semua pandangan ini baik dan bisa diterima.

Dua pandangan nitizen ini berseberangan namun peristiwa yang dikritisi itu sudah terjadi. Dalam sebuah video yang beredar tentang peristiwa perobekan logo gereja pada tenda-tenda pengungsi, memperlihatkan bahwa para pengungsi tidak mempersoalkan logo, entah dari gereja atau dari instansi lain yang memberikan bantuan. Bagi para pengungsi, satu harapan mereka adalah bisa ditolong pada saat darurat ini agar perlahan mereka bisa pulih dan bangkit kembali. Akibat ulah dari orang yang tidak bertanggung jawab itu, tenda-tenda yang disobek logo gerejanya, pada akhirnya bocor dan kemasukan air hujan.

Aksi serupa ini juga mengingatkan penulis akan peristiwa yang pernah muncul di daerah Bantul pada situasi bencana alam. Ketika wilayah Yogyakarta terkena bencana gempa bumi dan memporak-porandakan rumah warga pada beberapa tahun yang lalu, semua pihak membuka mata dan membantu para korban, termasuk gereja. Para pengungsi yang waktu itu mengungsi di area salah satu paroki di Bantul, kebetulan banyak teman-teman muslim juga turut mengungsi di area gereja itu. Tidak jadi masalah karena dalam kondisi darurat dan musibah seperti itu, orang tak lagi memikirkan pengkotak-kotakan berdasarkan agama, tapi yang terpenting adalah bagaimana para pengungsi itu menyelamatkan diri dan ditangani dengan baik.

Sumber foto: www.konteks.co.id

Dalam situasi normal, sepertinya masih terjadi polarisasi kelompok-kelompok agama. Namun sangat disayangkan pada momentum musibah seperti itu, mestinya pemikiran yang sempit tentang agama dan kehidupan keagamaan  itu harus disingkirkan. Yang harus kita munculkan adalah kemanusiaan. Nilai-nilai keagamaan yang selama ini kita pelajari, mestinya diwujudnyatakan dalam tindakan kasih pada mereka yang terkena korban bencana. Puncak pemahaman nilai agama tidak terletak pada narasi biblis saja tetapi justeru mendapatkan penegasan pada tindakan membagi kasih pada mereka yang terluka karena bencana. Sampai saat ini, masih banyak orang Indonesia terlalu mementingkan aspek ketuhanan, sampai lupa dengan aspek kemanusiaan. Mudah-mudahan peristiwa yang tidak terpuji ini tidak terulang lagi.***(Valery Kopong)

Monday, November 28, 2022

Malaikat Mikhael

 


Malaikat Mikhael tidak asing bagi kita kalangan  Katolik. Malaikat ini berperan penting dalam melawan iblis dan kekuatan-kekuatan lain yang menghancurkan. Kitab Suci Perjanjian Lama mengisahkan kehancuran dua kota, Sodom dan Gomora dan juga berperan penting dalam membantu penguburan Nabi Musa. Sodom dan Gomora, dua kota ini menjadi saksi sejarah atas murkanya Allah terhadap manusia yang menghuni dua kota ini. Berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya."(Kejadian 18:20-21)

 

Ketika kota Sodom hendak menghancurkan, Abraham meminta kepada Allah untuk menangguhkan murka itu. Tawaran untuk menahan murka harus memberikan jaminan jumlah orang benar di hadapan Allah. Abraham menawar Tuhan untuk tidak membinasakan Kota Sodom, dan Tuhan sepakat untuk tidak membinasakan kota tersebut jika di dalam kota tersebut setidaknya terdapat 50 orang benar, kemudian 45, kemudian 40, kemudian 30, kemudian 20, atau juga 10 orang benar (Kejadian 18:23-32). Sepuluh orang benar tidak ada di kota itu maka murkalah Allah, namun Lot diselamatkan oleh malaikat Mikhael dalam peristiwa bersejarah itu.

 

Selain itu,  malaikat Mikhael juga berperan penting dalam penguburan Nabi Musa. Dalam proses pendampingan bangsa Israel dan mengembara selama 40 tahun di padang gurun, Musa tidak masuk dan menikmati tanah terjanji, Kanaan. Musa, sebelum meninggal, Ia memandang dari kejauhan tanah terjanji itu dari atas Gunung Nebo. Sebelum  meninggal, Ia berpesan bahwa bangsa Israel harus menunjukkan kesetiaan pada Allah. Kesetiaan menjadi penting karena hanya dengan kesetiaan pada Allah itu maka kehidupan manusia berada pada apa yang menjadi kehendak Allah.   

Malaikat Mikhael sering disebut sebagai Penjaga Sakramen Mahakudus Ekaristi. Ia adalah pemimpin bala tentara surga. Sebagai seorang prajurit, ia juga berperan untuk melindungi kita dari musuh. Ia pun memiliki kuasa untuk menghukum siapa saja yang berdosa melawan sakramen ini.***(Valery Kopong)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sunday, November 27, 2022

Cahaya Lilin

 


Setiap kali pesta Natal tiba, Erwin, bocah berusia 4 tahun itu begitu senang ke gereja bersama dengan kedua orang tuanya. Suatu kebiasaan yang dilakukan oleh Erwin yang  tidak pernah terlewatkan adalah selalu mengumpulkan sisa-sisa lilin yang ada di sekitar kandang Natal. Tingkah ini selalu dilihat dan dipelajari oleh kedua orang tuanya. Ketika ditanya oleh Bapaknya tentang maksud dari pengumpulan lilin itu, Erwin dengan santai menjawab bahwa apa yang dilakukan hanya sekedar iseng.  Tetapi keisengan Erwin, suatu saat  pasti membuahkan hasil.

              Hasil pengumpulan lilin-lilin sisa Natal disimpan di kardus. Beberapa tahun kemudian, rumah Erwin terkena banjir. Mereka tidak mengungsi keluar tetapi tetap bertahan di lantai atas rumahnya. Ketika lantai bawah mulai tergenang air dan berupaya untuk berpindah ke lantai atas, barang-barang yang pertama kali  dibawa ke atas adalah lilin-lilin sisa yang ada di kardus. Memang, tingkah Erwin sedikit lain dengan menyelamatkan lilin-lilin sisa itu. Tetapi tindakan yang dilakukan selama ini pada akhirnya membuahkan hasil.

              Setelah rumah tergenang banjir dan pada saat bersamaan, listrik pun dimatikan. Suasana menjadi gelap gulita dan sepi. Yang terdengar adalah bunyi guyuran hujan disertai banjir. Di tengah kegelapan itu Erwin dan kedua orang tuanya teringat akan lilin-lilin sisa Natal yang masih tersimpan di kardus. Dua batang lilin dinyalakan untuk menghalau kegelapan yang sedang mendera wilayah perumaha Erwin dan orang tuanya.    

              Apa yang dilakukan oleh Erwin terkesan sederhana. Tindakan mengumpulkan sisa lilin Natal beberapa tahun lamanya dianggap sebagai hal biasa. Tetapi Erwin kini merasa bangga. Bocah yang belum fasih berbicara ini memperlihatkan sebuah tindakan antisipatif pada hari-hari yang tidak pernah diketahui, dan apa yang terjadi di waktu-waktu mendatang. Orang tua  Erwin tersenyum bahagia di tengah kepungan banjir yang melanda rumah mereka. Rumah-rumah tetangga bagai perkampungan mati karena tidak ada aliran listrik. Tetapi rumah Erwin membersitkan penggalan cahaya dari sisa-sisa lilin Natal. Lilin sisa yang dipungut dari kandang hina tetap memberikan secercah cahaya bagi mereka yang berani melihat kerdipan lilin di tengah kegelapan.

              Tuhan membuat segala sesuatu itu indah pada waktunya. Cahaya lilin yang terpantul dari kegelapan adalah bentuk kerinduan terdalam dari mereka yang ingin untuk tidak diliputi oleh  kegelapan malam. Erwin telah menghantar kedua orang tuanya untuk bisa memahami makna cahaya baru dari sisa-sisa lilin Natal. Seperti Yesus yang memilih kandang hewan untuk dilahirkan dan membawa pesan kesederhanaan, demikian juga Erwin telah memberi pesan kesederhanaan dari cahaya lilin-lilin sisa yang dipungut sekian tahun di seputar kandang Natal.***(Valery Kopong)

Saturday, November 26, 2022

Panggilanku Terhambat

 


Setiap kali bertemu dengan Romo Dan di ruang sakristi, sepertinya naluri panggilanku untuk menjadi calon imam semakin terasa.  Khotbah Romo Dan  yang  selalu berapi-api memberikan semangat bagiku dan ingin mengikuti  jejak Kristus menjadi calon imam. Apakah benih panggilan yang mulai terpupuk sejak aku terlibat dalam kegiatan sebagai putera altar bisa terwujud? Pertanyaan sederhana ini sepertinya sedang membenturkan dinding  cita-citaku.

              Cita-citaku cuma satu. Ingin menjadi calon imam dan mengikuti pendidikan mulai di seminari menengah. Sejak duduk di bangku kelas 9 SMP Yos Sudarso, aku mempunyai niat khusus ini, apalagi didukung  oleh Romo Dan. Sosok Romo Dan adalah gembala yang baik, bisa membimbing aku untuk mengenal lebih jauh tentang arti panggilan.    

              “Cita-cita menjadi imam?” aku melamun sendiri di ruang sakristi itu

              “Jangan ngelamun, Anung!.” Boby menyadarkan Anung sekaligus sahabat putera altar.  Sekarang kita mulai bertugas. Tugas Anung hari ini adalah membawa salib.

              Dengan sigap aku mulai  mengambil salib dan bersiap untuk perarakan misa. Perarakan berjalan lancar. Misa dimulai dengan khitmat namun sangat terasa ketika mulai pembacaan Injil dan khotbah.  Romo Dan membacakan Injil tentang Yesus memanggil murid yang pertama, rasanya  seperti cocok dengan pergulatan hatiku ini. Dalam khotbahnya Romo Dan menekankan bahwa Yesus memanggil murid-murid-Nya menunjukkan inisiatif pertama datang dari Yesus sendiri. Karena itu tidak mengherankan bahwa para murid yang dipanggil segera meninggalkan segala-galanya tanpa kompromi.

 

Setelah misa, aku langsung  pulang ke rumah bersama kedua orang tuaku serta Tensae dan Doal adik-adiku. Dalam mobil kijang yang kami tumpangi, aku duduk terpaku diam dan sambil memikirkan, kapan aku harus menceritakan niatku untuk menjadi calon imam ini pada kedua orang tuaku. Tetapi dengan mendengar khotbah Romo Dan tentang panggilan, sepertinya menyiksa batinku dan seolah memaksa aku menceritakan cita-citaku pada kedua orang tuaku.

              “Anung kok diam aja?” Tanya ibunya yang duduk di samping dalam mobil itu.

              “Apa yang sedang Anung pikirkan?” Tanya ibunya dengan rasa ingin tahu.

              “Ibu mendengar isi khotbah Romo Dan di mimbar?” Aku menanya balik pada ibuku.

              “Ya, ibu mendengar baik tentang isi khotbah Romo Dan.” Romo mengatakan bahwa panggilan itu semata-mata karena inisiatif Yesus. Artinya seseorang yang dipanggil tidak punya hak untuk menolak melainkan menerima panggilan itu.

              “Mengapa Anung menanyakan isi khotbah pada ibu?” Tanya ibunya.

              “Ya, aku sengaja menanyakan isi khotbah Romo Dan dan ini menjadi kesempatan bagi aku untuk menceritakan cita-cita hidupku.

              “Apa cita-citamu, Anung?” Tanya ibunya dengan penuh penasaran

              “Cita-citaku ingin masuk ke seminari supaya bisa menjadi seorang imam. Sejak terlibat dalam kegiatan putera altar, aku merasa tertarik terutama pada kesaksian hidup Romo Dan. Bagi aku, Romo Dan adalah seorang gembala yang baik dan memimpin umatnya dengan sangat bijak. Karena itu menjadi daya tarik bagi aku  untuk menjalani hidup seperti Romo Dan.”

              “Ibu mendukungmu untuk melanjutkan pendidikan ke  seminari menengah untuk menunjang panggilanmu yang luhur ini.”

              “Apa? Ibu mendukung Anung menjadi imam? Tanya ayahnya dengan penuh sinis. Bapak sekali-kali tidak memperbolehkan Anung menjadi calon imam. Bapak ini orang Batak yang  tidak memperbolehkan anak laki-laki sulung untuk menjadi imam. Karena anak laki-laki pertama adalah pelanjut marga kita, sinaga. Adikmu saja yang akan masuk ke seminari tetapi Anung menjadi  andalan pelanjut marga kita dan pada waktunya nanti Anung menjadi pewaris keturunan dari marga sinaga.

 

              “Ah, Bapak ini suka menghalangi cita-citaku.” Tukas aku. Supaya bapak tahu bahwa panggilan dari Tuhan itu merupakan inisiatif  dari-Nya dan manusia yang dipanggil harus memberikan jawaban atas panggilan itu. Tuhan yang memanggil manusia tidak mengenal dari suku atau marga mana. Tuhan hanya mementingkan kerelasediaan manusia untuk membuka diri terhadap panggilan itu. Panggilan itu sedang aku rasakan  dan ada dorongan yang sangat kuat untuk mengikuti panggilan itu dengan memulai langkah awal masuk ke seminari menengah.

 

Sesampai di rumah, kami mulai berdebat lagi tentang panggilan dan menjadi cita-citaku. Tetapi bapakku berkeras kepala dan mempertahankan pola pikir lama dan selalu mengarah pada kepentingan marga Sinaga. Apakah karena mementingkan keberlangsungan  hidup  marga Sinaga sehingga cita-citaku menjadi korban?  Aku terus berdoa supaya Tuhan sendiri bisa membuka pintu hati bapakku untuk memahami lebih jauh arti panggilan ini.  Aku merasa gagal  menjalani panggilanku karena terbentur pada tuntutan marga.***(Valery Kopong)

 

 

 

Thursday, November 24, 2022

Filosofi Bola

 

Beberapa hari belakangan ini, obrolan seputar bola sedang menghangat pada setiap lini kehidupan. Di warung-warung kopi dan angkringan, sambil menyeruput minuman kopi jahe, topik tentang bola terus digelindingkan sebagai cara menghidupkan piala dunia, walau jarak antara Qatar sebagai tempat perhelatan piala dunia dan angkringan itu, mirip langit dan bumi, begitu jauh. Bola memberikan spirit, tak hanya pada laga hijau tanah lapang namun menembus jiwa para penonton. Ketika kesebelasan Arab membobolkan gawang dan menggetarkan jaring pada lini pertahanan Argentina, para fans Argentina sepertinya murung dan kehilangan selera makan. Bentangan kekalahan Argentina, negeri yang menghasilkan benih-benih pemain bola dunia harus bertekuk lutut di bawah “banana kick” pemain Arab.

Tak lama berselang, keesokan harinya kesebelasan Jerman bertarung melawan Jepang, ternyata negeri Samurai itu “memburai” gawang team banser yang terkenal garang pada piala dunia sebelumnya. Semua yang terjadi itu, baru langkah awal. Ini baru babak penyisihan, artinya masih ada peluang untuk bertarung meraih tiket supaya bisa masuk pada babak selanjutnya. Pada tahap penyisihan dengan kekalahan pada negara-negara bergengsi dan sangat disegani dalam piala dunia, harus tunduk sembari mengamini kemenangan lawan.

Piala dunia yang sedang berlangsung ini tidak hanya menggema di negara-negara yang terkenal dengan pemain sepak bola tingkat dunia. Namun Indonesia yang tak pernah masuk piala dunia pun lebih sibuk menonton dan bahkan menjadi komentator terbaik menurut para analis bola Indonesia. Riuhnya penonton Indonesia yang duduk di depan layar kaca, menunggu dengan jantung setengah berdenyut, menuruti alur permainan klub kesayangan.  Orang-orang Indonesia sebagai penonton aktif, terus memberikan spirit pada klub kesayangan. Dalam satu rumah saja, masing-masing anggota keluarga pasti memilih klub kesayangan dan pada akhirnya membuka pertarungan ini menjadi ramai. Bola memang bundar dan terus menggelinding di lapangan hijau. Bola tak sekedar kulit dan diisi dengan angin, namun lebih dari itu ada filosofi bola yang terus menghipnotis para penonton hingga pada akhirnya orang gila pada bola.


Bagi seorang pemain bola, “Setiap detik adalah final bagi kehidupan.” Karena itu para pemain, sebelum bertanding harus mempersiapkan diri secara matang. Mungkin selama ini Arab lebih serius melatih strategi dan membangun stamina untuk menghadapi lawan di lapangan hijau. Atau juga Jepang berani mempertaruhkan reputasi untuk mengangkat nama Asia semakin bergengsi dengan menekuk Jerman di babak penyisihan. Arab, Jepang barangkali di mata Argentina dan Jerman kurang diperhitungkan. Mungkin juga penonton tak memperhitungkan Arab dan Jepang yang bisa memenangi lawannya. Dan di arena permainan, kata Charles Baudelaire, Pelapis Schmidt di bagian depan, selalu mengingatkan para pemain bahwa hidup hanya mempunyai sebuah pesona tunggal yakni permainan. Dan jika kita masuk atau terperangkap masuk dalam pola permainan maka masing-masing orang harus mengantongi pertanyaan filosofis ini: “Maukah Anda menang atau kalah?”***(Valery Kopong)

 

 

 

 

 

 

Wednesday, November 23, 2022

Membaca “Siluet”

 

Ketika menjelang Pemilu, terutama Pilpres yang akan terjadi pada tahun 2024, biasanya para ketua umum partai memainkan peranan penting. Namun Pilpres yang akan terjadi pada tahun 2024, figur Jokowi juga memainkan peranan penting terkait arah dukungan pada salah satu figur capres. Memang Jokowi masih berada dalam naungan PDIP tetapi bukan berarti beliau tidak punya suara untuk menentukan capres nanti. Jika figur capres yang akan diputuskan oleh PDIP sesuai dengan kriteria Jokowi maka beliau langsung memberikan dukungan. Namun andai kata, figur yang diusung sebagai capres oleh PDIP yang tidak sesuai dengan kriteria Jokowi maka kemungkinan besar, Jokowi bisa memberikan rekomendasi  figur lain pada koalisi Indonesia Bersatu yang selama ini memberikan angin positif pada Jokowi.

Mengapa Jokowi bisa diandalkan dalam memberikan rekomendasi terhadap figur capres untuk tahun 2024? Jawabannya sederhana, yakni Jokowi mempunyai relawan tangguh yang bekerja selama ini untuk memenangkan Jokowi pada Pilpres yang telah berlalu. Beberapa kali Jokowi menghadiri acara yang diselenggarakan oleh para relawannya dan memberikan peringatan, “ojo kesusu,” artinya jangan buru-buruh menentukan capres dan jangan buru-buru mendeklarasikan capres saat ini. Apa yang dikatakan Jokowi ini sebagai “warning” bagi setiap partai untuk mempersiapkan figur secara matang dan diterima oleh publik. Kriteria itu tidak sekedar mantan gubernur tetapi rekam jejak masa lalu bisa memberikan informasi pada masyarakat yang pada akhirnya menentukan pilihan bijak.

Memahami  naluri politik Jokowi sepertinya membaca “siluet” yang sulit ditebak oleh lawan-lawan politik. Langkah politik Jokowi terkesan lamban namun pasti dan menukik. Filosofi letak keris Jawa bisa memberikan gambaran tentang cara berpolitik ala Jokowi. Ketika mengenakan pakaian ada Jawa, biasanya keris ditaruh pada posisi belakang. Sebagai lelaki Jawa, tidak sekedar untuk mengenyampingkan posisi keris itu tetapi ketika menelusuri kedalaman makna dan mengaitkan dengan tindakan politis, ada korelasi makna. Keris itu kelihatan kecil namun bisa menusuk dari belakang dan mematikan.

Dalam strategi perang, keris tidak diperlihatkan pada lawan, artinya bahwa lawan juga sulit membangun strategi untuk membela diri dan mematahkan lawan. Situasi ini agak berbeda ketika kita membandingkan dengan cara orang-orang Timur Indonesia, selalu memperlihatkan senjata saat melakukan peperangan. Memang ada baiknya memperlihatkan senjata perang untuk menakutkan lawan, namun dengan itu lawan bisa dengan mudah mencari strategi untuk mematahkannya.


Mungkin terlalu jauh jika kita  menganalisah keterkaitan antara senjata dengan langkah-langkah politik. Namun dalam berpolitik, mirip peperangan, ada yang harus dikalahkan melalui pertarungan demokrasi (pemilu) dan cara-cara tidak terpuji bisa dilakukan, mirip tusukan keris dari belakang yang sanggup mematikan lawan. Berpolitik itu  harus tahu strategi untuk mengalahkan lawan. Jokowi telah menjadi pemenang dalam pertarungan demokrasi.***(Valery Kopong)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, November 22, 2022

Romero dan Jalan Martyria

 

Membaca Kisah Para Rasul yang mengisahkan tentang kehidupan Jemaat Perdana, terlihat jelas tugas-tugas Gereja yang perlu dilakukan oleh Gereja saat ini. Ada persekutuan (koinonia) yang memperlihatkan sebuah persaudaraan sejati. Mereka hidup secara bersama dalam kelompok, tentu memperlihatkan sebuah aspek yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Ada gerak bersama seperti doa secara bergilir (liturgya) dari rumah yang satu ke rumah yang lain sambil memecah-mecahkan roti. Doa menjadi kekuatan yang bisa menopang ziarah perjalanan paguyuban itu. Selain itu mereka mendengarkan pengajaran para rasul (kerygma) dan  melayani (diakonia) satu dengan yang lain. Ada satu hal penting yang dilakukan adalah kesaksian (martyria) dan menjadi penting serta  memberikan ciri tersendiri pada kelompok Jemaat Perdana ini.

Tulisan sederhana ini hendak menyoroti kesaksian, tidak hanya dilakukan oleh Gereja perdana tetapi dalam Gereja masa kini, justeru seorang Uskup Agung Romero memberikan pembelaan pada kaum miskin dan upaya menghadirkan wajah Kristus yang berpihak, namun  pada akhirnya mengantarkan dirinya pada ujung senjata yang mematikan. Uskup Romero yang hidup di El Salvador menjadi terkenal di daerah Amerika Latin dan memberikan opsi keberpihakkannya pada orang kecil yang tanah-tanah mereka dikuasai oleh penguasa. Romero tak tinggal diam. Beliau tidak membangun menaruh gading untuk membentengi diri dari kebisingan hidup luar biara, namun beliau terlibat dengan caranya tersendiri, yakni berpihak pada mereka yang kecil dan tersingkirkan.

Suara profetisnya menyoroti tindakan represif dari mereka yang berkuasa. Ternyata suara sang gembala ini selalu mengusik ketenangan mereka yang menamakan diri sebagai penguasa. Karena itu ketika Ia sedang merayakan Ekaristi dan persis pada saat konsekrasi, Ia ditembak mati. Ia jatuh tersungkur di altar bersama tubuh dan darah Kristus yang sedang dihunjukkan itu. Kematian yang dialami oleh Romero bukanlah kematian sia-sia. Namun kematiannya merupakan kematian berharga karena telah membela orang-orang kecil. Memang, menjadi imam, nabi dan raja, tidak berhadapan dengan jalan hidup yang mulus, tetapi justeru selalu mendapatkan tantangan dan ancaman sehingga nyawa menjadi taruhan.    


Romero belajar dari Kristus yang datang mewartakan Kerajaan Allah dengan penuh resiko. Seperti Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah harus menerima konsekuensi tragis sebagai bagian dari perutusan-Nya, demikian juga Romero.  Kisah korban Yesus menjadi kisah inspiratif sepanjang waktu. Kematian Yesus di atas kayu salib bukanlah kematian sia-sia, tetapi ada nilai lain di balik kematian-Nya. Upaya dari salib adalah keselamatan manusia. Semoga darah Romero menjadi benih bagi iman umat Kristiani.***(Valery Kopong)

 

Monday, November 21, 2022

“Unclean Spirit”

 

Beberapa hari belakangan ini muncul reaksi dari orang-orang Katolik dan Kristen Protestan terhadap apa yang dikatakan oleh Daniel Mananta saat mewawancarai Ustad Abdul Somad. Pernyataan Daniel bahwa di salib itu ada “unclean spirit” dan apa yang dikatakan ini memancing reaksi kemarahan publik. Terhadap reaksi yang diperlihatkan publik saat ini, belum terlihat reaksi balik dari Daniel. Terhadap apa yang dikatakan Daniel sebagai bentuk perendahan terhadap martabat Kristus yang tersalib, apakah menggerus iman kekatolikan?

Dalam sejarah perjalanan Gereja Katolik, begitu banyak hambatan yang dialami bahkan begitu banyak penindasan yang dialami itu, tidak pernah menyurutkan iman kekatolikan. Merendahkan salib dengan mengatakan “unclean spirit” merupakan sebuah dugaan dan khayalan atau jangan-jangan sebuah phobia semu. Apa yang dinarasikan oleh Daniel memperlihatkan lemah imannya akan Kristus. Daniel, menurut beberapa sumber mengatakan bahwa ia adalah seorang Katolik namun dalam peristiwa ini kita bisa mempertanyakan tentang sikap iman sebagai orang Katolik.

Sebagai orang Katolik dan beriman pada Kristus, salib adalah puncak kasih dan pengorbanan Kristus untuk menebus manusia.  Puncak iman kekristenan adalah pengalaman kebangkitan Kristus dan proses kebangkitan yang dilalui oleh Yesus, tentu melewati jalan terjal sampai puncak penyaliban-Nya di Golgota. Salib tidak dilihat sebagai akhir dari kehidupan Yesus namun melalui salib itu ada tawaran keselamatan. “Bapa, selesailah sudah!” Inilah kata-kata akhir sebagai bentuk pertanggung jawaban Yesus di atas kayu salib. Penderitaan manusia didekap-Nya pada puncak kayu salib itu. Melalui salib, Ia harus mati dan pada hari ketiga Ia bangkit dari alam maut.

Allah yang telah mengutus-Nya tak pernah membiarkan Ia bergulat dengan maut, namun karena kuasa Allah, Yesus bangkit mulia dari alam maut. Bagi kita yang beriman akan Kristus, proses penyelamatan manusia yang dilalui Yesus, tidaklah mudah. Ia setia dalam penderitaan, penyaliban dan bangkit dari alam maut. Proses ini dilalui seorang Mesias, penyelamat. Karena itu ketika Yesus di atas kayu salib dan diolok-olok, Ia tidak memberikan reaksi. “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel?”  Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Apakah Yesus bisa turun dari salib saat diolok? Bisa saja, namun andaikata Ia turun dari kayu salib, maka keselamatan tidak terjadi karena belum tuntas proses yang harus dilalui Yesus.


Yesus telah menunjukkan ketaatan pada Allah dan kecintaan-Nya pada manusia. Salib yang dipikul Yesus merupakan salib keselamatan. Tak ada “unclean spirit” yang bertengger di salib itu, yang ada adalah tawaran keselamatan. Spirit yang muncul dari salib adalah cinta tanpa pamrih.***(Valery Kopong)